Senin, 26 Desember 2011

Nun

Resensi Novel
Judul : Nun, . . .
Penulis : Whanny Darmawan
Penerbit : Omahkebon Publishing
Tebal : 253
Harga : Rp. 50.000
1324306808299898947
Pada hakekatnya aku adalah ksatria. Jalan hidupku adalah jalan ksatria. Seorang ksatria punya kesetiaan pada janji dan dirinya sendiri. Dalam hidup, ksatria harus punya tujuan. Seorang ksatria harus memberikan harga pada keksatriaannya. Jalan ksatria adalah jalan kesungguhan. Jalan ksatria adalah jalan yang menghargai kemanusiaan, dengan cara mengolah diri untuk menjadi terampil , lincah dalam menanggapi peristiwa,…..(Nun; hal 198)

“Nun,…” merupakan sebuah kejutan saat dibaca. Ia menawarkan sisi lain dalam bingkai narasi hitam-putih yang mainstream. Ketika oleh konstruksi tersebut orang dibatasi pada sikap salah dan benar.
Mengambil latar kisah perseteruan berujung perang di padang Kurusetra antara geng Pandawa melawan Geng Kurawa, “Nun,…” justru menghidupkan pergulatan seorang tokoh yang tidak begitu vital dalam epos Mahabrata. Ketika perhatian serta energi pembaca kisah mitologi tersebut masuk dalam ke-haru-an atas nasib Pandawa ditindas oleh Kurawa, yang kemudian meledak dalam ajang pembalasan ketika perang Bharatayudha terjadi.
Sutagangga, itulah nama tokoh hasil perjumpaan antara Dewi Kunti dan Bathara Surya. Anak haram yang terlahir akibat hasrat nakal kemudaan Kunthi Talibrata, si perawan berkaki menjangan yang selalu ingin mencoba sesuatu yang baru; yang dimilikinya. Aji pameling pemberian begawan Druwasa ditembangkan menembus batas eksistensi antara bumi manusia dan dunia para dewa.

Bukankah setiap aliran air membutuhkan lereng landai untuk mengucurkan tubuhnya ? Bathara Surya yang terpana aji pameling kasmaran, meninggalkan benih dalam tubuh si gadis perawan. Aib senantiasa bagian menakutkan dari kekuasaan, harkat, martabat maupun wibawa. Kehamilan diluar nikah senantiasa adalah Aib, atas nama prestise, bayi yang terlahir dilarung di sungai Gangga. Sungai Gangga, ibunda segala yang terbuang.
Perang kehidupan sesungguhnya dimulai, ketika setiap orang berusaha menemukan dirinya. Menemukan sejarahnya. Bukankah orang yang tidak tahu sejarahnya niscaya tidak akan memahami siapakah dirinya ?
Novel ini, seperti ketika orang bercinta, menawarkan klimaks yang tidak biasa namun menyenangkan. Ketika orang menemukan dirinya, apapun cerita setelahnya, menjadi tidak begitu penting. Sebab kenyataan adalah kebenaran ampuh yang tak terhindarkan, meski diingkari. Seperti itulah Sutagangga. Walau rahim yang mengandungnya adalah rahim pewaris mahkota kerajaan, ia harus menemukan dirinya sebagai anak kusir kereta; Adirata.
Menemukan sejarahya hanya menghantarkan Sutagangga pada persimpangan yang lebih rumit. Menerima dirinya sebagai yang tertua dari kaum Pandawa ataukah sebagai abdi kurawa. Antara rahim atau tanah yang membesarkannya.
Serumit apapun persimpangan dikepala setiap orang, toh akhirnya harus tetap memilih jalan yang akan dilalui dengan segala rintangan. Ia menetapkan harga bagi dirinya sendiri; ksatria. Sutagangga memutuskan menjadi Macan kecil, daripada menjadi kambing besar dalam rombongan. Ia menciptakan ordinatnya sendiri dalam desain hitam-putih yang didiktekan oleh kekuasaan yang lebih besar, kekuasaan para dewa. Posisi ini adalah gugatan sekaligus warna lain untuk kehidupan yang lebih indah. Ia telah memutuskan, Sekali terbuang tetaplah terbuang.
Tugas setiap novel bukan sekedar menjadikan pembaca hanyut dalam cerita yang mengharu-biru. Sebuah novel menjadi penting untuk dibaca ketika dapat menghantarkan pembaca menemukan diri atau paling tidak memahami standing position-nya. Ada kesan yang sama ketika membaca novel ini dengan membaca beberapa karya termasyur seperti Miyamoto Musashi karya Eiji Yoshikawa, Senopati Pamungkas karya Arswendo Atmowiloto sampai pada karya SH Mintardja Naga Sasra dan Sabuk Inten yang juga menceritakan penemuan diri tokoh utama dalam cerita-cerita tersebut.
Selain tentang kisah pencaharian diri, pembaca akan menemukan perspektif gender dalam peran dewi Kunthi yang berani menentukan sikap dan pilihan diantara situasi tertekan maupun dalam peran Gendari istri si raja buta Destarata .
Novel ini bisa membuat pembaca serius sepintas kemudian tertawa terbahak-bahak, apalagi jika membayangkan kalimat lucu tersebut diucapkan oleh si penulis. Sekaligus ini merupakan titik lemah dari buku ini terutama untuk menjangkau pembaca yang lebih luas. Kalimat dan gaya dialognya khas penulisnya, yang tentu saja mudah dipahami oleh orang-orang yang bisa berinteraksi dengan penulis namun bisa membuat kening berkerut bagi pembaca awam. Selain itu “Nun,…” mensyaratkan bacaan primer yaitu Epos Mahabrata agar bisa paham lebih banyak dalam membaca novel ini.
“Nun,…” merupakan teman yang baik untuk melewati akhir tahun. Membacanya bisa membantu seseorang untuk memutar ulang perjalanan hidup selama setahun. Ada bagian didalamnya yang menyatakan ; “orang yang tak mengerti sejarahnya, dia tidak akan bisa menghargai perasaan cintanya sendiri. Kalau ia tidak bisa menghargai perasaan cintanya sendiri, ia tidak akan bisa menghargai kehidupan. Hidupnya akan mudah rusak. Tidak mengerti harga kesetiaan, cinta, budi baik”.
Selamat membaca…….
Yogyakarta, 18 Desember 2011
John Talan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar